PRESS RELEASE - DEWAN ATSIRI INDONESIA - Hindari Perdagangan Spekulatif Minyak Atsiri

          Gangguan pasokan bahan baku sedang terjadi dalam Industri Minyak Atsiri. Harga sebagian besar minyak atsiri melonjak tinggi terutama pada semester dua tahun 2010. Kombinasi antara faktor anomali cuaca seperti hujan yang terus menerus, letusan gunung api dan kompetisi komoditas pertanian lainnya telah mengakibatkan petani dan penyuling mengalami kesulitan beroperasi secara berkesinambungan. Mayoritas petani menempatkan  tanaman atsiri sebagai komoditas kedua setelah tanaman utamaUsaha tanaman atsiri hanya merupakan sumber penghasilan tambahan. Petani di Indonesia cenderung menanam komoditaspangan atau komoditas perkebunan lainnya dan sebagian bahkan mulai meninggalkan tanaman atsiri. Sebagai contoh, banyak kebun nilam yang berubah menjadi kebun jagung atau kebun sawit/kakao akhir-akhir ini.

            Industri pengguna minyak atsiri, terutama industri perisa dan pewangi(flavor & fragrance), menuntut pasokan yang berkesinambungan, selain tentunya kualitas yang sesuai standar dan harga yang pantas. Kesinambungan pasokan menjadi pertimbangan utama dalam memilih bahan baku. Permintaan akan minyak atsiri Indonesia sesungguhnya tumbuh namun justru menghadapi pasokan yang cenderung menurun.

            Sistem rantai pasok tradisional dengan banyak pedagang perantara pada kenyataannya sering kali dijadikan ajang perdagangan spekulatif. Persediaan minyak atsiri, terutama minyak nilam, biasanya banyak berada di tangan spekulan pada saat harga berfluktuasi tajam. Dampak buruk dari harga yang berfluktuasi serta pasokan yang tersendat adalah pengurangan dosis pemakaian oleh industri pengguna akhir. Pada saat pasokan tersendat, harga membumbung tinggi, petani tanaman atsiri biasanya tergerak untuk menanam dan dalam beberapa bulan situasinya akan berbalik menjadi pasokan berlebih, sehingga harga turun. Kondisi harga yang rendah biasanya akan bertahan lebih lama daripada kondisi harga tinggi. Pada akhirnya situasi seperti ini merugikan industri minyak atsiri secara keseluruhan, terutama merugikan petani dan penyuling.

            Meskipun situasi ini tidak melulu terjadi pada minyak atsiri Indonesia, DAI  mendorong seluruh pelaku usaha pada industri minyak atsiri Indonesia untuk melaksanakan sistem bisnis (usaha) yang berkelanjutan (sustainable business practice). Untuk itu DAI telah memulai beberapa program yang melibatkan berbagai lembaga, pemakai akhir, eksportir, penyuling dan petani minyak atsiri Indonesia. Proyek percontohan dengan skema usaha yang mengutamakan transparansi dan perdagangan berkeadilan telah dicoba agar pasokanyangberkesinambungan dapat tercipta. Program kemitraan usaha yang dikenal dengan CULTIVA ini dapat menyatukan seluruh sumber daya yang dimiliki tiap-tiap pelaku usaha untuk mencapai tujuan yang sama. Fokus program ini ada pada kesinambungan produksi (pasokan),kepastian pasar dan harga serta jaminan kualitas minyak atsiri bagi petani, penyuling, koperasi, eksportir dan industri pengguna.

       Tanpa mengabaikan faktor-faktor lainnya, situasi berkurangnya pasokan minyak nilam saat ini terutama diakibatkan oleh kesulitan petani untuk melakukan panen dan mengeringkan hasilnya dalam kondisi cuaca yang terus menerus hujan pada bulan-bulan terakhir ini. Disamping itu, pengangkutan hasil panen ke lokasi-lokasi penyulingan otomatis menjadi sulit dan mahal dalam musim hujan sekarang ini. Areal tanaman nilam di sentra-sentra produksi yang saat ini dilaporkan oleh Dinas Perkebunan tiap-tiap daerah menunjukkan bahwa sesungguhnya potensi panen nilam masih cukup memadai meskipun belum mampu mengimbangi permintaan secara keseluruhan. Data luas areal tanaman nilam di seluruh Indonesia yang siap panen dalam beberapa bulan ke depan tercatat mencapai lebih dari 3000 hektar. Langkah yang diperlukan untuk memperbaiki pasokan bahan baku adalah aksi nyata membantu petani mendapatkan solusi dalam masalah pengeringan dan transportasi hasil panen tersebut. Di samping itu, terdapat pula minyak nilam simpanan yang sewaktu-waktu akan dilepas pemiliknya apabila harga jual di atas harga perolehan yang cukup tinggi pada awal 2008 (yang karena harga turun tajam pada semester dua 2008, masih disimpan sampai saat ini).

          Terkait dengan berbagai pemberitaan di media masa baik lokal maupun nasional, cetak maupun on-line, DAI tidak dapat mengkonfirmasi bahwa akan terjadi kenaikan harga  minyak  nilam  yang  ekstrim  pada  tahun  2011. DAI berpendapat harga minyak nilam yang terlalu rendah maupun terlalu tinggi tidak menguntungkan bagi petani dan penyuling. Dalam  menghadapi situasi tersebut di atas, DAI menyarankan agar petani tanaman nilam lebih memperkuat kerja sama dan kemitraan dengan penyulingyang telah lama membinahubungan yang baik. DAI juga mendorong kepada semua pembeli/industri pengguna minyak atsiri (terutama industri perisa dan pewangi) untuk tidak berhubungan dengan para spekulan namun lebih memperkuat kemitraan dengan perusahaan yang selama ini telah menjadi pemasok utama.

            DAI mengajak semua pihak untuk senantiasa memelihara semangat mencapai cita-cita bersama, yaitu industri minyak atsiri Indonesia yang berkembang, melalui kerja sama dengan rasa saling percaya yang tinggi antar seluruh pemangku kepetingan.Transparansi dan komitmen merupakan nilai-nilai yang dijunjung agar tercipta iklim usaha yang saling menguntungkan dan berkeadilan.

8 Desember 2010

TTD

Meika S. Rusli                                                     Arianto Mulyadi

 

Ketua                                                                  Sekretaris Eksekutif