Referensi

Lembaga Pendidikan

Blog

Blog
  • Trend Output of Essential Oil

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

    Read More...

  • Minyak Atsiri Indonesia

    Penyusun : Dewan Atsiri Indonesia

    Minyak atsiri telah diketahui mempunyai banyak manfaat, dapat digunakan dalam industri pangan, parfum, toiletries, maupun farmasi. Saat ini, Indonesia menjadi salah satu produsen minyak atsiri terbesar di dunia untuk beberapa komoditi. Diperkirakan terdapat 40 jenis minyak atsiri yang dapat diproduksi dari berbagai jenis tanaman yang ada di Indonesia, 12 jenis diantaranya diklasifikasikan sebagai komoditi ekspor.

    Pada booklet ini, diperkenalkan beberapa jenis minyak atsiri yang diproduksi di Indonesia, 5 diantaranya merupakan komoditi unggulan Indonesia seperti minyak nilam (patchouli oil), minyak pala (nutmeg oil), minyak akar wangi (vetiver oil), minyak cengkeh (clove oil), dan sereh wangi (citronella oil). Booklet ini juga dilengkapi dengan kondisi perdagangan, historis harga minyak atsiri Indonesia di pasar dunia, data harga minyak atsiri di beberapa daerah di Indonesia pada tahun 2008-2009 , dan daftar eksportir minyak atsiri yang ada di Indonesia.

     

    Booklet ini hanya dapat anda peroleh di sekretariat Dewan Atsiri Indonesia.

    Hubungi : Yuslina (0818-0858-0628, 0813-8236-2627), Nuri (0858-1354-0599)

    Download Daftar Isi Buku Minyak Atsiri Indonesia

    Read More...

  • STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL (SPO) BUDIDAYA TANAMAN NILAM

    BUDIDAYA TANAMAN NILAM YANG BAIK DAN BENAR ( GAP )

    Oleh: Ir. Octivia  Trisilawati, dkk

    BALAI PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT

    Jl. TENTARA PELAJAR No. 3 BOGOR 16111

    balittro@litbang.pertanian.go.id

    Pengenalan Jenis dan Varietas Unggul Nilam:          

    Tanaman Nilam:

    Kingdom   : Plantae
    Divisi         : Spermatophyta
    Kelas        : Angiospermae
    Ordo          : Lamiales
    Famili        : Labiateae
    Genus        : Pogostemon
    Spesies    : Pogostemon cablin Benth.
    Di Indonesia terdapat tiga jenis nilam,  dibedakan dari ciri morfologi (keragaan luar), kandungan dan kualitas minyak serta ketahanan terhadap cekaman biotik dan abiotik.

    Jenis-jenis nilam:

     1. Nilam Aceh (Pogostemon cablin Benth /     Syn. P. patchouli  Pellet)
         Tidak berbunga, paling luas sebarannya, banyak dibudidayakan, kadar & kualitas minyak lebih tinggi dari jenis lain

     -   Asal Filipina/Malaysia

     -   Kadar minyak tinggi (> 2%)

     -   Permukaan daun halus

     -   Ujung daun runcing

     -   Tepi daun bergerigi tumpul

    2. Nilam Jawa/nilam kembang (P. heyneanus Benth)
       Tidak bernilai komersial, tahan cekaman biotik dan abiotik

        Nilam Jawa (P. heyneanus Benth.)

    -   Asal India

    -   Kadar minyak rendah (< 2%)

    -   Permukaan daun kasar

    -   Ujung daun meruncing

    -  Tepi daun bergerigi runcing

    -  Toleran terhadap penyakit

    -   Tahan terhadap cekaman abiotik

    3. Nilam sabun (P. hortensis Becker)
        Tidak berbunga, digunakan untuk rumah tangga                   

    Keragaman Tanaman Nilam Indonesia:

    •Rata-rata produksi : Terna basah 30 ton/ha/th, terna kering ± 6 ton/ha/th,

    •Rendemen minyak 2 - 2,5 % (120 - 150 kg minyak/ha/th)

    •Umumnya petani menanam jenis nilam yang kurang jelas asalnya  atau disebut jenis lokal.

    •Harga minyak nilam berfluktuasi antara:   Rp.250.000 – 1.200.000 ,-/kg.

    •Fluktuasi produksi dan harga minyak nilam disebabkan oleh Permintaan dunia, nilai rupiah dan  ketidak stabilan pasokan:  perubahan iklim (kekeringan, hujan)  serangan penyakit

    Luas areal (Ha), produksi (Ton) , produksi (kg/ha) dan Jumlah petani (KK):

    Tahun

    Luas areal

    (Ha)

    Produksi

    (Ton)

    Produksi

    Kg/ha

    Jumlah petani (KK)

    2007

    22.150

    2.546

    115

    35.561

    2008

    22.132

    2.062

    93

    -

    2009

    24.535

    2.779

    113

    65.313

    2010

    24.672

    3.357

    136

    65.518

    2011

    24.718

    3.872

    157

    65.651

    2012

    29.381

    3.300

    144

    -

    2013

    29.783

    3.347

    145

    -

    Sumber: Ditjenbun 2014

    Kunci Keberhasilan Budiddaya Tanaman Nilam:

    •Terapkan STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR  (SOP) Budidaya

    • Pengembangan di daerah yang sesuai

    • Menggunakan varietas unggul

    •Tindakan budidaya yang optimal (penyiapan lahan, perbenihan, pola tanam, pengendalian OPT terpadu,  sanitasi)

    •Proses panen dan pasca panen yang tepat.

    Varietas unggul nilam:

    Faktor penting penentu keunggulan: 
    a) produksi, kadar dan mutu minyak,
    b) ketahanan terhadap cekaman biotik dan abiotik

    Faktor-faktor yang mempengaruhi kadar dan mutu minyak nilam:  genetik (jenis), budidaya, lingkungan, panen dan pasca panen.

    Lima varietas Nilam  sudah dilepas:

    Tahun 2005 (Hasil eksplorasi dan seleksi):

    1. Sidikalang

    2.  Lhokseumawe

    3. Tapak Tuan

    Tahun 2013 (Hasil perakitan  pemuliaan):

    4. Patchoulina 1 (Tahan layu bakteri)

    5. Patchoulina 2 (Tahan layu bakteri)

    Karakteristik varietas unggul nilam:

    1. Varietas Tapak Tuan: Produksi terna kering (ton/ha) 13,28, Kadar minyak:2,83, Produksi minyak (kg/ha):375,76, Kadar Patchouli alkohol (%):33,31, Ketahanan terhadap layu bakteri: ( -)

    2. Varietas Lhokseumawe: Produksi terna kering (ton/ha): 11,09,Kadar minyak (%): 3,21, Produksi minyak (kg/ha:355,89, Kadar Patchouli alkohol (%):32,63,  Ketahanan terhadap layu          bakteri : (-)

    3. Varietas Sidikalang: Produksi terna kering (ton/ha): 10,90, Kadar minyak (%): 2,89, Produksi minyak (kg/ha):315,06, Kadar Patchouli alkohol (%):32,95,Ketahanan terhadap layu               bakteri: (-)

    4. Varietas Patchoulina 1:Produksi terna kering (ton/ha):12,67, Kadar minyak (%):2,85, Produksi minyak (kg/ha):356,37, Kadar Patchouli alkohol (%):32,53, Ketahanan terhadap layu             bakteri: ( ++)

    5. Varietas Patchoulina 2:Produksi terna kering (ton/ha):12,56, Kadar minyak (%):2,78, Produksi minyak (kg/ha):343,22, Kadar Patchouli alkohol (%):32,31, Ketahanan terhadap layu             bakteri: ( ++)

    Keterangan : -  = tidak tahan ; + = agak toleran ; ++ = toleran/tahan, Mutu memenuhi persyaratan Standar Nasional Indonesia (SNI)

    Varietas Unggul Nilam:

    1. Varietas Tapak Tuan :

    • Produktivitas terna (daun basah): 41,59-64,67 ton/ha,

    •Produksi minyak: 234,89-583,26 kg/ha èrelatif tinggi

    •Daya adaptasi yang luas,  pangkal batangnya hijau dengan sedikit ungu. 

    2. Varietas Lhokseumawe :

    •Produktivitas terna 42,59 – 64,67ton/ha,

    •Produksi minyak 273,49-415,65 kg/haè cukup tinggi dan

    •kemampuan adaptasi luas, pangkal batang agak ungu

    3. Varietas Sidikalang :

    •Produktivitas terna: 31,38-80,37ton/ha,

    •Produksi minyak : 176,47-464,442 kg/haè relatif tinggi,

    •daya adaptasi yang luas, dan relatif tahan terhadap nematoda dan penyakit layu.

    •Pangkal batang ungu tua

    Perbanyakan bahan tanaman dan penyemaian:

    •Setek nilam sebaiknya disemai terlebih dahulu karena apabila langsung ditanam di lapangan, banyak yang mati.

    •Perbanyakan tanaman nilam secara vegetatif dengan menggunakan setek.

    •Setek yang paling baik adalah setek pucuk mempunyai 4-5 buku selain itu setek juga dapat diambil dari cabang dan batang.

    •Untuk mengurangi penguapan, daun tua dibuang, sisakan 1-2 pasang daun muda/pucuk.

    Waktu mempersiapkan setek sebaiknya setek direndam dalam air dan dapat dicampur dengan fungisida 0,2% (5 – 10 menit) sebelum disemai dipolibag.

    •Setek nilam sebaiknya disemai terlebih dahulu karena apabila langsung ditanam di lapangan, banyak yang mati.

    •Perbanyakan tanaman nilam secara vegetatif dengan menggunakan setek.

    •Setek yang paling baik adalah setek pucuk mempunyai 4-5 buku selain itu setek juga dapat diambil dari cabang dan batang.

    •Untuk mengurangi penguapan, daun tua dibuang, sisakan 1-2 pasang daun muda/pucuk.

    Waktu mempersiapkan setek sebaiknya setek direndam dalam air dan dapat dicampur dengan fungisida 0,2% (5 – 10 menit) sebelum disemai dipolibag.

    Pemeliharaan di persemaian:

    •Untuk menjaga kelembaban, setek yang baru disemai perlu disiram dengan embrat.

    •Penyiraman dilakukan setelah penyemaian, kemudian disungkup dengan sungkup plastik.

    •Penyiraman selanjutnya setelah 2-3 hari. Selama di dalam sungkup, penyiraman tidak perlu dilakukan setiap hari.

    •Sungkup dibuka setelah tanaman berumur 2 minggu.

    •Pemberian pupuk daun dan penanggulangan hama/penyakit (kalau diperlukan) dilakukan satu kali seminggu.

    •Benih siap tanam setelah 1,5 bulan dipersemaian

    Kesesuaian Lahan dan Iklim untuk Nilam:

    •Lahan dan iklim sangat mempengaruhi produksi dan kualitas minyak nilam, terutama ketinggian tempat dan ketersediaan air.

    •Jenis tanah: Latosol, Andosol, Regosol, tumbuh bagus pada tanah yang gembur dengan humus tinggi

    •Nilam sangat peka terhadap kekeringan (heavy drinker), kemarau panjang setelah panen dapat menyebabkan tanaman mati.

    •Kedalaman air tanah > 100 cm, air tanah > 75 cm, pH 5-7

    •Curah hujan 1750-3500 mm/tahun, hari hujan >100, bulan basah >7 bln, kelembaban udara 70-90%.

    •Lahan bebas dari penyakit à layu bakteri dan budok

    Keuntungan pengembangan di daerah yg sesuai:

     • Mencegah resiko gagal

     • Penerapan teknologi lebih efisien

    Kriteria kesesuaian lahan dan iklim tanaman nilam

     

    Parameter

    Tingkat kesesuaian

     

    Sangat sesuai

    Sesuai

    Kurang sesuai

    Tidak sesuai

    Ketinggian (m, dpl.)

    Tanah

    1. Jenis tanah
    2. Drainase
    3. Tekstur
    4. Kedalaman air
    5. pH
    6. C-organik (%)
    7. P205 (ppm)
    8. K20 (me/100 g)

    9. KTK (me/100 g)

    100 – 400

    Andosol, latosol

    Baik

    Lempung

    > 100

    5.5 – 7

    2 – 3

    16 – 25

    > 1.0

    > 17

    0 – 700

    Regosol, podsolik,  Baik

    Liat berpasir

    75 – 100

    5 – 5.5.

    3 – 5

    10 – 15

    0.6 – 1.0

    5 – 16

    > 700

    Lainnya

    Agak baik

    Lainnya

    50 – 75

    4.5 – 5

    < 1

    > 25

    0.2 – 0.4

    < 5

    > 700

    Lainnya

    Terhambat

    Pasir

    < 50

    < 4.5

    -

    -

    -

    -

    Iklim

    1. Curah hujan (mm)
    2. H H/ tahun
    3. Bln basah/ tahun
    4. Kelembaban udara %
    5. Temperatur 0C

    6. Intensitas cahaya

    2.300-3.000

    190-200

    10-11

    80-90

    22-23

    75-100

    1.750 - 2.300

    (3000 – 3.500)

    170-180

    9-10

    70-80

    24-25

    -

    (1.200 – 1.750)

        (> 3500)

    < 100

    < 9

    < 60

    > 25

    < 1.200

    ( > 3.500 )

    -

    < 8

    < 50

    -

    -

     

    Persiapan lahan dan lubang tanam:

    •Tanah dicangkul, dibersihkan dari gulma (alang-alang dsb), kemudian digaru dan diratakan.

    •Buat saluran drainase dan jumlahnya disesuaikan kontur lahan.

    •Lubang tanam dibuat dengan ukuran 30 cm x 30 cm x 30 cm, dengan jarak tanam antara barisan 90 cm - 100 cm dan jarak tanam dalam barisan 40 cm-50 cm. Jarak tanam disesuaikan dengan kondisi lahan.

    •Pada lahan datar, jarak tanam dalam barisan lebih besar (100 cm x 50 cm) sedangkan pada lahan yang agak miring (± 150) jarak tanam dalam barisan lebih sempit (40 cm) dan arah baris menurut kontur tanah.

    • Pada lokasi dengan kesuburan yang tinggi (banyak humus) jarak tanam sebaiknya 100 cm x 100 cm, karena pada umur 5-6 bulan, kanopi sudah bertemu.

    •Tanaman nilam tidak menghendaki adanya air yang tergenang, untuk itu perlu dibuat saluran drainase..Saluran drainase dibuat sekeliling

    •Setelah tanaman berumur ± 1 ½ bulan di persemaian, tanaman dapat dipindahkan ke lapang.

    •Cara menanam yaitu dengan menyobek polibag secara hati-hati dan menanam tanaman di lubang yang telah disediakan, kemudian tanah dipadatkan dengan cara menekan tanah disekitar tanaman.

    •Setek yang langsung ditanam di lapang adalah setek yang telah berkayu dengan tinggi ± 30 cm, dibenamkan 2 buku ke dalam tanah.

    • Penanaman langsung ke lapang berisiko tanaman banyak yang mati. Tanaman yang mati disulam dengan tanaman baru.

    •Disamping pupuk dasar yang diberikan pada waktu tanam berupa pupuk organik (pupuk kandang, kompos dll) dengan dosis 10 - 20 ton/ha, atau 0,5 - 1 kg/lubang tanam, untuk memacu pertumbuhan tanaman perlu diberi pupuk anorganik.

    •Dosis dan komposisi pupuk yang diberikan tergantung dari jenis tanah dan tingkat kesuburannya.

    •Sebagai pedoman umum, untuk tanaman nilam selama 2 tahun dibutuhkan 40 ton pupuk organik per hektar dan pupuk anorganik: 500 kg Urea + 250 kg SP-36 + 450 kg KCl, diberikan 5 kali untuk 4 kali panen.

    Ditemukan Adanya Senyawa Alelopati Yang Bersifat Autotoksik Pada Nilam:

    •Produktivitas tanaman  nilam  menurun sangat nyata pada budidaya secara menetap

    •Di dalam daun dan akar nilam mengandung as. koumarik,  as sinapik, as. adipik dan as hidroksi benzoat yg bersifat autotoksik bagi tanaman nilam

    Aplikasi pembenah tanah berupa arang sekam dan tempurung mampu menyerap kandungan senyawa alelopati di dalam tanah dan dapat menekan pengaruh negatif senyawa alelopati yang bersifat autotoksik pada sistim budidaya secara menetap.

    Sistem pergiliran tanaman dapat dilakukan untuk menekan pengaruh senyawa alelopati di dalam tanah serta menekan serangan OPT tanaman nilam

    Pemberian mulsa / penutup tanah:

    •Tanaman nilam tidak tahan kekeringan, terutama setelah dilakukan pemangkasan (panen).

    •Kemarau panjang dapat menyebabkan kematian tanaman.

    •Di daerah dengan musim kemarau panjang disarankan memakai mulsa organik sebanyak 1 kg per tanaman berupa limbah penyulingan nilam.

    •Untuk menjaga kelembaban tanah dan mengurangi penguapan, tanaman diberi mulsa berupa semak belukar atau alang-alang. Mulsa semak belukar lebih baik dibandingkan alang-alang     karena lebih cepat melapuk.

    •Penyiangan gulma dilakukan sebelum kanopi tanaman saling bertemu, yaitu sampai tanaman berumur 3-4 bulan.

    •Penyiangan dilakukan dengan hati-hati jangan sampai akar tanaman terputus atau cabang-cabang yang dekat permukaan tanah terganggu.

    Pembumbunan:

    •Agar tanah tetap gembur dan merangsang pertumbuhan akar pada cabang-cabang dekat permukaan tanah, perlu dilakukan pembumbunan.

    •Umumnya pembumbunan dilakukan pada umur 3 bulan setelah tanam (setelah pemupukan kedua) dan setelah pemangkasan/panen I dan II.

    Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT):

    1. Penyakit Layu Bakteri

    •Penyebab  Ralstonia solanacearum  menyebabkan kerugian cukup besar bagi petani nilam (60-95% pada pertanaman nilam di Sumatera).

    •Gejala serangan : Layu pada tanaman muda atau tua, dalam waktu singkat menyebabkan kematian tanaman.

    •Varietas Patchoulina 1 dan 2 lebih tahan terhadap penyakit layu bakteri dibandingkan varietas lainnya

    •Ketahanan nilam terhadap penyakit layu bakteri kemungkinan disebabkan adanya kandungan kimia yang dihasilkan oleh tanaman tersebut seperti fenol dan lignin.

    •Penyakit layu bakteri dapat menulari tanaman nilam dari tanaman inang seperti Solanaceae (ras 1), terong, cabe, tomat, pisang dan abaca (ras 2), kentang (ras 3) dan jahe (ras 4)  yang sudah ada pada lahan sebelum ditanami nilam, atau dari benih yang telah mengandung penyakit.

    •Untuk mencegah penularan à  sebaiknya sebelum tanam terlebih dahulu diperhatikan jenis tanaman yang telah ada dilahan yang akan ditanami.

    •Hindari pengambilan setek dari tanaman yang telah tertular penyakit.

    2. Penyakit yang disebabkan oleh nematoda

    •Nematoda menyerang akar tanaman nilam, kerusakan akar menyebabkan  berkurangnya suplai air ke daun

      stomata menutup dan  laju fotosintesa  menurun

    •Jenis nematoda:  Pratylenchus brachyurus,Meloidogyne incognita, Radhopolus similis

    •Mekanisme ketahanan nilam terhadap  nematoda:  kandungan fenol dan lignin

    •Varietas Sidikalang,  fenol = 81.45 ppm >  nilam Jawa (76.45 ppm)

    •Nilam Jawa termasuk nilam yang tahan terhadap nematoda.

    Penanggulangan :

    -  Varietas yang toleran (Sidikalang)

     -  Agen hayati (Pasteuria penetrans, Arthrobotrys sp., jamur penjerat nematoda)

       - Pestisida nabati (serbuk biji nimba, bungkil jarak), nematisida

      - Cara budidaya (pupuk organik dll)

      -  Menanam benih yang bebas dari nematoda.

    Tanaman inang nematoda:

      - Pisang, kopi, keladi, dll (untuk R. similis); 

       -Kentang dll (untuk P. brachyurus),

        - Tomat, terung, kentang dll (untuk M. incognita).

    Perhatikan tanaman inang yang telah ada di lokasi sebelum menanam nilam à u/ penentuan jenis tanaman tumpang sari dengan nilam

    3. Penyakit budok

    ·Penyebab:  jamur   Synchytrium sp.

    · Gejala penyakità batang membengkak dan menebal, daun berkerut dan tebal, dengan permukaan bawah berwarna merah, permukaan atas daun menguning karena kekurangan unsur hara.

    Pengendalian penyakit budok:

    •Pergiliran tanaman, sanitasi kebun dan yang terpenting adalah menggunakan benih sehat.

    •Tanaman yang sudah terserang budok tidak boleh diambil seteknya untuk perbanyakan.

    •Belum ditemukan bahan kimia yang efektif untuk mengendalikan penyakit budok

    •Belum ada varietas nilam yang tahan terhadap penyakit budok.

    •Tanaman yang telah terserang dicabut dan dibakar, tanah bekas tanaman disiram dengan fungisida.

    Bubur bordo:

    Larutan I   :  Kapur 100 g + 5 L air
    Larutan II  :  100 g terusi (copper sulfate) + 5 L air
    Campurkan Larutan I ke Larutan II, aduk

    Serangan hama dapat menyebabkan produksi menurun terutama karena pada umumnya bagian tanaman yang banyak diserang adalah daun.

    Hama yang menyerang tanaman nilam antara lain :

    •Belalang dan ulat daun.

    Belalang dan ulat daun dapat menyebabkan tanaman gundul sehingga menurunkan produksi (terna).

    •Kutu daun  dan tungau

    Serangan kutu daun dan tungau dapat menyebabkan daun menggulung dan berkeriput (keriting), sehingga sangat mempengaruhi pertumbuhan tanaman.

    Pola tanam:

    •Umumnya nilam diusahakan secara monokultur, namun dapat juga ditanam secara tumpangsari dengan tanaman lain:

    • Palawija (jagung, kacang tanah, kacang hijau, kedelai).

    • Tanaman sela, tidak menimbulkan persaingan, dalam hal penyerapan unsur hara, air dan cahaya matahari dan tidak merupakan tanaman inang bagi patogen penyebab penyakit dan          tanaman inang bagi hama.

     • jenis2 tanaman  sela yg dilarang karena sebagaiinang patogen penyebab penyakit nematoda (tomat,lada,terung,kentang,kacang tanah, kopi, keladi, pisang, dan lain-lain), bakteri layu        (solanaceae, pisang, abaca, kentang, dan jahe)

     • Waktu dan jarak tanaman antara sesama tanaman pokok dan antara tanaman pokok dengan tanaman sela harus diperhitungkan dengan cermat.

    • Nilam dapat juga sebagai tanaman sela di antara pertanaman kelapa, kelapa sawit karet yang masih berumur muda karena tanaman nilam masih berproduksi dengan baik pada                 intensitas cahaya minimum 75%.

    • Pola tanam ini akan memberikan keuntungan:: menekan biaya operasional (pemeliharaan, mengurangi resiko terjadi penurunan harga,  kegagalan panen akibat serangan  

       hama/penyakit,  curah hujan yang sangat tinggi atau kekeringan,   meningkatkan produktivitas tanah oleh hasil tanaman sela.

    • Polatanam nilam: pergiliran tanaman/rotasi à setelah nilam 1-2 siklus, digilir dg tanaman seperti legum, palawija yang tidak banyak menguras unsur hara (1-2 tahun) & bukan inang            penyakit.

    • Pergiliran tanaman untuk nilam sangat diperlukan, guna mempertahankan kesuburan tanah, menghindari efek alelopati dan memutus siklus hama/penyakit.

    Contoh pola tanam nilam dengan tanaman lain:

    - Nilam dan sawit

    - Nilam dan jagung

    - nilam dengan jabon

    - Nilam dan kakao

    - Nilam dengan bawang daun

    - Nilam dengan kacang merah

    - Nilam dengan gliricidia

    -Nilam dan cabe dilarang

    Panen:

    •Tanaman nilam dapat dipanen pada umur 5-6 bulan dan panen berikutnya dilakukan setiap 3-4 bulan, sampai tanaman sudah tidak produktif lagi.

    •Panen dilakukan pada pagi atau sore hari agar kandungan minyaknya tidak turun/menguap.

    •Cara panen è pangkas tanaman pada ketinggian 30 cm dari permukaan tanah dengan meninggalkan 2-3 cabang untuk merangsang tumbuhnya tunas-tunas baru.

    •Gunakan pisau pangkas, sabit yang tajam.

    •Setelah pemangkasan tanaman perlu diberi pupuk sesuai anjuran dan dibumbun agar tanah disekeliling batang menjadi gembur.

    Pasca panen:

    •Hasil pangkasan dikering-anginkan selama 3-5 hari sampai kadar air mencapai 15%. Tebal lapisan penjemuran < 30 cm dan dibalik 2-3 kali sehari.

    •Daun yang telah kering-angin langsung disuling, penyimpanan yang lama (> 3 bln) akan menurunkan produksi minyak.

    • Hindari pengeringan yang terlalu cepat atau terlalu lambat.

    • Pengeringan yang terlalu cepat membuat daun menjadi rapuh dan sulit disuling dan yang terlalu lambat (musim hujan), daun mudah terserang jamur, menurunkan rendemen dan mutu minyak.

    •Proses pengering anginan hasil panen dapat dilakukan di rak

    Penyulingan:

    • DIKUKUS / STEM DESTILATION  (< 200 kg)
        kepadatan bahan 100 g/L selama ± 7 jam
        kecepatan penyulingan 175 ml/menit
    •. UAP LANGSUNG/BOILER (200 kg) 
        lama penyulingan  5 jam,
       dgn tekanan ketel 0,5 kg/cm2, dinaikkan bertahap sampai tekanan
       mencapai 1,5 kg/cm2

    Kemasan Minyak Nilam:
    Botol/ Jerigen berwarna Gelap, jerigen dari Polyetilen, Volume minyak di dalam wadah disisakan ruang  5-10%

    Metode Pengujian Patchouli Alkohol Minyak Nilam di Lapangan dan di Lab:

    Metoda: Masukkan 10 tetes minyak nilam ke dlm botol kecil Tambahkan 10 s/d 30 tetes etanol ke dalam botol

    Hasil :

    Bila minyak menjadi jernih (A)à kadar PA >30% (mutu tinggi)

    Bila minyak tidak jernih (B)à kadar PA < 30% (mutu kurang baik)         

    Pembuatan Kompos         

    Bahan:

    Molinti (Dekomposer), ada beberapa campuran bahan utam (direndam 15 hari):
    •. 1 kg sisa2 makanan + 5 l air kelapa/cucian beras
    •.  Mol nasi: serasah daun bambu+ sisa nasi dijamurkan dahulu
         3 kg nasi berjamur + 5 l air kelapa/cucian beras + 2% gula
    •.  3 kg sisa2 sayuran/rebung + 5 l air kelapa/cucian beras + 2% gula
         Bahan dirajang/dicincang, sayuran col yg baik hasilnya yg sudah tua
        10 kg col + 5% garam (0,5 ons)+ 5 l air beras
    •.  3 kg ikan/keong mas + 5 l air kelapa/cucian beras + 5% gula
    •.  3 kg nanas + 5 l air kelapa/cucian beras + 2% gula

    Komposisi Bahan Pengomposan:

    SAMPAH

    100 KG

    200 KG

    PUKAN

    12.5 KG/ 0,5 KARUNG

    20-25 KG/ 1 KARUNG

    KAPTAN

    0,5 KG

    1 KG

    DEKOMPOSER

    25-50 ML

    50-100 ML

    DEKOMPOSER YG SUDAH DILARUTKAN

    25 L

    50 L


                                                                                             *** ( 03 MRN)

     

     

     

     

     

     

     

      

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

    Read More...

  • Sukses Memproduksi Minyak Atsiri

    Minyak atsiri berasal dari tanaman yang memiliki kandungan khusus dengan aroma yang khas. Berbagai macam tanaman yang dibudidayakan di Indonesia memiliki potensi yang besar untuk diolah menjadi minyak atsiri. Buku dengan judul “Sukses Memproduksi Minyak Atsiri” menjelaskan cara memproduksi minyak atsiri hingga cara memurnikan minyak atsiri sesuai dengan standar mutu, sehingga layak untuk diekspor.  Berbagai tanaman unggulan dan tanaman potensial penghasil minyak atsiri juga dipaparkan dalam buku tersebut. Bisnis “wangi” ini dapat memberikan keuntungan hingga jutaan rupiah per bulan. Karena itu, dijelaskan juga berbagai peluang usaha dan analisis usahanya.

    Pengarang : Dr. Meika Syahbana Rusli

    Penerbit : Agro Media Pustaka

     

    Buku tersebut dapat diperoleh di toko-toko buku terdekat di kota Anda, atau jika merasa kesulitan, DAI bersedia membantu Anda.
    CP. Nuri          (0858 13540599 / 0812 82682446)
            Yuslina   (0813 82362627 / 0818 08580628)

    Read More...

  • Minyak Atsiri

    Minyak atsiri merupakan senyawa organik yang berasal dari tumbuhan dan bersifat mudah menguap, mempunyai rasa getir, dan bau mirip tanaman asalnya. Minyak atsiri dikenal dengan nama minyak eteris atau minyak terbang, atau sering pula disebut minyak essential. Bahan baku minyak ini diperoleh dari berbagai bagian tanaman seperti daun, bunga, buah, biji, kulit batang, akar, dan rimpang.

    Minyak atsiri banyak digunakan sebagai bahan baku untuk industri parfum, bahan pewangi (fragrances), aroma (flavor), farmasi, kosmetika dan aromaterapi.

    Berbagai macam tanaman yang dibudidayakan atau tumbuh dengan sendirinya di berbagai daerah di Indonesia memiliki potensi yang besar untuk diolah menjadi minyak atsiri, baik yang unggulan maupun potensial untuk dikembangkan. Tanaman penghasil minyak atsiri yang termasuk unggulan adalah tanaman yang memiliki volume produksi cukup besar di dalam negeri dan hasil minyaknya telah sangat dikenal di pasar dunia. Tanaman dalam kelompok ini misalnya nilam, akar wangi, pala, cengkeh, dan sereh wangi.

    Proses produksi minyak atsiri dapat ditempuh melalui 3 cara, yaitu; (1) pengempaan (pressing), (2) ekstraksi menggunakan pelarut (solvent extraction), dan (3) penyulingan (distillation). Penyulingan merupakan metode yang paling banyak digunakan untuk mendapatkan minyak atsiri.  Penyulingan dilakukan dengan mendidihkan bahan baku di dalam ketel suling sehingga terdapat uap yang diperlukan untuk memisahkan minyak atsiri dari komponen bukan minyak atsiri atau dengan cara mengalirkan uap jenuh dari ketel pendidih air (boiler) ke dalam ketel penyulingan yang berisi bahan baku minyak atsiri.

    Minyak atsiri merupakan salah satu komoditas ekspor agroindustri potensial yang dapat menjadi andalan bagi Indonesia untuk mendapatkan devisa. Negara tujuan ekspor seperti USA, Eropa, Australia, Afrika, Cina, India, dan ASEAN. Beberapa minyak atsiri unggulan seperti minyak nilam telah memberikan pangsa pasar lebih dari 90% kebutuhan dunia atau sekitar 35-40% dari total nilai ekspor minyak atsiri. Sementara untuk ekspor minyak daun cengkeh dan turunannya telah menyuplai lebih dari 70% dari kebutuhan dunia, dan lebih dari 90% kebutuhan dunia untuk minyak pala disuplai oleh Indonesia. Minyak atsiri lainnya juga berperan penting di pasar dunia seperti minyak akar wangi, minyak sereh wangi, minyak kenanga, minyak jahe, minyak jeruk purut, minyak adas, minyak kemukus, minyak kayu putih, minyak massoi, minyak cendana, minyak gaharu, dan lain-lain.

     

    Informasi atau pengetahuan lainnya yang lebih spesifik bisa didapatkan pada kolom library.

    Read More...

Minyak Atsiri Indonesia

Penyusun : Dewan Atsiri Indonesia

Minyak atsiri telah diketahui mempunyai banyak manfaat, dapat digunakan dalam industri pangan, parfum, toiletries, maupun farmasi. Saat ini, Indonesia menjadi salah satu produsen minyak atsiri terbesar di dunia untuk beberapa komoditi. Diperkirakan terdapat 40 jenis minyak atsiri yang dapat diproduksi dari berbagai jenis tanaman yang ada di Indonesia, 12 jenis diantaranya diklasifikasikan sebagai komoditi ekspor.

Pada booklet ini, diperkenalkan beberapa jenis minyak atsiri yang diproduksi di Indonesia, 5 diantaranya merupakan komoditi unggulan Indonesia seperti minyak nilam (patchouli oil), minyak pala (nutmeg oil), minyak akar wangi (vetiver oil), minyak cengkeh (clove oil), dan sereh wangi (citronella oil). Booklet ini juga dilengkapi dengan kondisi perdagangan, historis harga minyak atsiri Indonesia di pasar dunia, data harga minyak atsiri di beberapa daerah di Indonesia pada tahun 2008-2009 , dan daftar eksportir minyak atsiri yang ada di Indonesia.

 

Booklet ini hanya dapat anda peroleh di sekretariat Dewan Atsiri Indonesia.

Hubungi : Yuslina (0818-0858-0628, 0813-8236-2627), Nuri (0858-1354-0599)

Download Daftar Isi Buku Minyak Atsiri Indonesia